Sejarah Singkat Pelonggaran Kuantitatif Di Jepang

(MahadanaLearning) Negeri sakura ini merupakan perekonomian terbesar keempat di dunia yang terkenal dengan kecanggihan teknologinya, tetapi ukuran dan kesehatan ekonominya tidak berjalan beriringan. Karena terjadinya beberapa kombinasi faktor baik yang berhasil terkontrol atau tidak, ekonomi Jepang telah menjadi perangkap nilai selama hampir dua dekade, tapi semua itu mungkin akan berubah setelah Jepang mengumumkan adanya program pelonggaran kuantitatif skala besar beberapa waktu lalu, dimana nilainya akan mencapai $1,4 triliun dalam waktu 2 tahun.


Harapannya adalah dengan adanya kebijakan baru ini akan mengubah lingkungan deflasi di Jepang menjadi kondisi inflasi sekitar 2%. Menurut Wall Street Journal, ukuran dari pelonggaran kualitatif yang dilakukan Jepang ini 60% lebih besar daripada yang dilakukan oleh Amerika Serikat.

Pada akhir Perang Dunia II, Jepang berada dalam keruntuhan ekonomi, tetapi negara ini tidak butuh waktu lama bagi perekonomian untuk pulih dan bangkit kembali. Pada tahun 1960, pertumbuhan ekonomi riil rata-rata telah mencapai 10%, kemudian dikisaran 5% pada 1970-an, dan 4% pada tahun 1980. Penguasaan teknologi canggih, etos budaya kerja yang kuat, dan hanya 1% dari PDB yang disisihkan untuk pertahanan negara mendongkrak pertumbuhan ekonomi dimana beberapa ekonom di kala itu menyebutnya sebagai "keajaiban."

Dalam sebuah gambaran paralel dengan Amerika Serikat, apa yang mengubah pertumbuhan yang tinggi di Jepang menjadi salah satu kondisi keuangan darurat adalah gelembung harga besar pada pasar saham dan properti yang kemudian meletup di era awal tahun 1990-an. Banyak yang menjuluki era ini dengan sebutan “Lost Decade,” dimana mulai tahun 1990 Jepang hanya melihat rata-rata pertumbuhan PDB sebesar 0,5% dibandingkan dengan Amerika Serikat yang sebesar 2,6%. Akibatnya, negara ini mulai menerapkan program pelonggaran kuantitatif dengan memompa uang ke dalam ekonomi dari tahun 2001 sampai 2006.

Bank of Japan (BOJ) memulai program pelonggaran kuantitatif pada bulan Maret 2001 dengan menurunkan suku bunga mendekati nol dan melakukan pembelian obligasi pemerintah. Setelah lima tahun melakukan peningkatan pembelian obligasi secara gradual, BOJ menghentikannya pada bulan Maret 2006. Awalnya, program ini terlihat berhasil menstabilkan perekonomian dan menghentikan laju penurunan harga, tetapi deflasi kembali terjadi dalam 1-2 tahun setelahnya dan hal ini menempatkan BOJ dalam sorotan.

Dari 2002 sampai dengan 2007, Jepang merasakan pertumbuhan ekonomi yang kuat, tetapi hanya satu tahun setelahnya, setelah program kuantitatifnya sudah tidak berjalan, negara ini kembali di bawah tekanan ekonomi. Pemerintah Jepang lagi-lagi memompa uang ke dalam perekonomian, namun pada tahun 2011, sebuah gempa besar 9,0 skala richter, tsunami, dan krisis nuklir membawa ekonominya kembali terpuruk.

Negara ini tetap berada dalam lingkungan deflasi karena berbagai macam faktor. Jumlah pekerjaan yang sedang menurun, populasi sudah menua, mata uang yen yang kuat, dan hanya ada sangat sedikit imigrasi ke negara tersebut.

Boleh dibilang, Jepang adalah negara penggagas dari kebijakan moneter non-konvensional, yang sekarang ini banyak disebut sebagai pelonggaran kuantitatif dimana neraca dari bank sentralnya akan menggelembung karena menyimpang obligasi pemerintah. Dengan program kebijakan kuantitatif terbarunya, Jepang akan membuat jumlah utangnya semakin membesar dimana saat ini berada ditingkat 214% dari produk domestik bruto yang dimilikinya.

 

 

Follow Us

Email Subscription

Daftarkan Email Anda:

Delivered by FeedBurner

Terpopuler